*diambil dari MK. Agama dan Gender yang disampaikan oleh Bu Neng Hannah M. Ag
Bentuk kekerasan terbagi ke dalam tiga kategori diantaranya:
1) diskriminasi, dibedakan. tindakan tersebut sering ditemukan dalam dunia kerja antara job laki-laki dan perempuan walaupun memiliki kapasiti yang sama apalagi jika lebih dari sisi perempuan dibanding laki-laki. kenyataannya, hal tersebut tidak menjadi kontribusi utuh, maksudnya adalah bahwa pekerjaan perempuan seprofesionalnya pun tetap gajinya di bawah laki-laki bahkan yang lebih tidak manusiawi sekali di bawah UMR. wujud dari ketidakadilannya sendiri terbukti dalam penerimaan gaji selama kerja/bln. misal laki-laki dapat 2 keping sedangkan perempuan jelas di bawah laki-laki yaitu sekeping uang-ibaratnya.
2) steretype, yaitu pelabelan negatif terhadap kaum perempuan berupa cemoohan, pelecehan seksual dari hal terkecil seperti menyahut-nyahut sang gadis yang lewat diantara para lelaki, terlebih jika pakaian yang dikenakan oleh perempuan tersebut bahkan hingga menonjolkan bentuk-bentuk badan, tak heran para lelaki akan menyaut-nyaut lebih bergairah hingga yang terbesar. kemudian terjadinya gunjingan-gunjingan di kalangan masyarakat. Apa yang membuat begitu sangat rentan mendapat perhatian dibanding lelaki ? apalagi kalau serba mengenakan barang-barang yang mencolok. apa iya bahwa semua keindahan dan keseksian tersebut hanya mutlak dimiliki oleh perempuan?
3)marginalisasi, peminggiran secara sistematis. hal ini terjadi di desa atau pinggiran kota. contoh, ketika perempuan mencangkul di sawah beserta anak kecilnya, sedangkan bapaknya sendiri menggunakan mesin penggempur tanah ladang oleh karena itu lebih mudahlah bagi sang suami sekaligus bapak sendiri yang bisa memeprtahankannya. segi teknologi menjadi bagian dari semakin terpinggirkannya perempuan secara sistematis.
itulah tiga ciri bentuk ketidakadilan seorang manusia terhadap manusia lainnya walaupun mereka adalah bagian masih dari diri, namun sikap emosional lah yang biasa membentuk pola pikir untuk berbuat sesuai degan kemauan sendiri terhadap hal yang diinginkan.
Kamis, 27 Oktober 2011
Senin, 24 Oktober 2011
keluarga IisSuarsihWihanda CS
Keluarga
Karena keluarga semua dikorbankan, karier, kepentingan, keinginan maupun hasrat memiliki sesuatu. Namun, bagaimana kalau sudah mengorbankan keluarga? Nyawa pun akan menjadi sasaran. Hal tersebut terjadi bukanlah tanpa sebab semua memilki perkaranya hanya saja keluarga jauh lebih utama dalam menempati sisi kepribadian seseorang entah itu cara dia bersosialisasi ataupun sikap dalam bentuk perangai.
Keluarga memang berbatas namun keberadaannya tak terbatas sekalipun lahiriah berada di tempat berbeda. Keluarga bukanlah magnet, bukan pula bumi, kutub. Kutub sama dengan bujur bumi atau kerak bumi, karena adanya pergeseran bumi yang yang terletak di kutub maka terjadilah goncangan, semakin menekan goncangan pada bumi semakin besar pula pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup di bumi. Kutub, gambaran sederhana keluarga.
Keluarga, kehidupan dimulai setelah berkeluarga bahkan seseorang dapat merasakan kehidupan ini, apa yang terjadi, begitu pekanya manusia karena keluarga. Hal tersebut memang tidak dominan menentu namun memungkinkan. Berbagai, peristiwa muncul dengan kengerian-kengerian yang dijadikan informasi bagi khalayak ramai, semua itu bukan tanpa sebab kalau tidak keluarga walau hidup di lingkungan bebas.
Karena keluarga semua dikorbankan, karier, kepentingan, keinginan maupun hasrat memiliki sesuatu. Namun, bagaimana kalau sudah mengorbankan keluarga? Nyawa pun akan menjadi sasaran. Hal tersebut terjadi bukanlah tanpa sebab semua memilki perkaranya hanya saja keluarga jauh lebih utama dalam menempati sisi kepribadian seseorang entah itu cara dia bersosialisasi ataupun sikap dalam bentuk perangai.
Keluarga memang berbatas namun keberadaannya tak terbatas sekalipun lahiriah berada di tempat berbeda. Keluarga bukanlah magnet, bukan pula bumi, kutub. Kutub sama dengan bujur bumi atau kerak bumi, karena adanya pergeseran bumi yang yang terletak di kutub maka terjadilah goncangan, semakin menekan goncangan pada bumi semakin besar pula pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup di bumi. Kutub, gambaran sederhana keluarga.
Keluarga, kehidupan dimulai setelah berkeluarga bahkan seseorang dapat merasakan kehidupan ini, apa yang terjadi, begitu pekanya manusia karena keluarga. Hal tersebut memang tidak dominan menentu namun memungkinkan. Berbagai, peristiwa muncul dengan kengerian-kengerian yang dijadikan informasi bagi khalayak ramai, semua itu bukan tanpa sebab kalau tidak keluarga walau hidup di lingkungan bebas.
Seorang Pengemis Muda di Tirau Bambu Rantai Hijau
aku diibaratkan ratapan
dalam hembusan angin yang merana
karena tidak ditemani debu
yang biasanya beterbangan
menyentuh haluan yang menghalangi
dinding kusam, kulit kusam, lampu buram
semuanya tak menyenangkan
sehingga
aku merindukan kicauan burung yang biasa hinggap d ranting
aku memang bagai pengemis
karena daku memang pengemis
di kegelapan tanpa kehijau-hijauan
aku memang kesepian
mendera naluri ususku yang terbelah
karna si hijau tak nampak
selalu aku memaki semak-semak belukar
karena tidak berdaya dalam mempertahankan kejantanan sang mata hikau
yaitu keteguhan bagi setiap makhluk-Nya
jangan herang karena semuanya pun akan seperti itu
hanya saja aku merana dalam keheningan malam tanpa arah yang pasti hingga menggetarkan debu yang tak disadari tertelan melalui pori-pori kulit
dan akhirnya aku terjerat untuk mencoba
namun tidak aku lakukan
karena si hijau nampak lebih berarti dari apa yang ia dapatkan
hanya keputusan akhir yang tak nampak namun coba dienyahkan sejadi-jadinya sebelum semuanya sirna sudah
aku mengmis karena si hijau tempat ku berteduh juga di tanah
pegang erat anganku hingga tiba waktuku untuk menyambut diriku dlam buaian seorang pngemis muda di tirau bambu rantai hijau.
dalam hembusan angin yang merana
karena tidak ditemani debu
yang biasanya beterbangan
menyentuh haluan yang menghalangi
dinding kusam, kulit kusam, lampu buram
semuanya tak menyenangkan
sehingga
aku merindukan kicauan burung yang biasa hinggap d ranting
aku memang bagai pengemis
karena daku memang pengemis
di kegelapan tanpa kehijau-hijauan
aku memang kesepian
mendera naluri ususku yang terbelah
karna si hijau tak nampak
selalu aku memaki semak-semak belukar
karena tidak berdaya dalam mempertahankan kejantanan sang mata hikau
yaitu keteguhan bagi setiap makhluk-Nya
jangan herang karena semuanya pun akan seperti itu
hanya saja aku merana dalam keheningan malam tanpa arah yang pasti hingga menggetarkan debu yang tak disadari tertelan melalui pori-pori kulit
dan akhirnya aku terjerat untuk mencoba
namun tidak aku lakukan
karena si hijau nampak lebih berarti dari apa yang ia dapatkan
hanya keputusan akhir yang tak nampak namun coba dienyahkan sejadi-jadinya sebelum semuanya sirna sudah
aku mengmis karena si hijau tempat ku berteduh juga di tanah
pegang erat anganku hingga tiba waktuku untuk menyambut diriku dlam buaian seorang pngemis muda di tirau bambu rantai hijau.
Suap-Menyuap: Kategorisasi Pelayanan Paling Menjamin
Sogok-Menyogok; Kebutuhan Tradisi-budaya
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah sogok (noun) sebagai anak kunci yang digunakan untuk menyogok atau menyuap. Sedangkan menyogok sendiri adalah merogoh, memberi suap. Perilaku tersebut biasa terjadi di berbagai sector tanpa memandang kelas. System sogok-menyogok terjadi bukan karena niat namun karena ada kesempatan. Kalau niat bisa berupa materi yang telah disiapkan dengan rupa-rupa cara mendapatkannya, dan kesempatan lebih mengenai ruang dan waktu sebagai peluang aman untuk menyogok. Hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan, semua demi kepentingan yang ingin dicapai, bagaimana pun caranya termasuk system sogok-menyogok. Tak menyoal berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika ia terbentur dengan suatu kepentingan.
Kendati demikian, siapakah atau lembaga apakah yang menerima sogokan tersebut? Sebelumnya telah dijelaskan di muka bahwa untuk sogok-menyogok sendiri terjadi di berbagai sector. Baik itu sector negeri maupun swasta, gelinya lagi kesibukan tersebut sudah menjadi transaksi terbuka di kalangannya sekalipun itu adalah lemabag Negara seperti kepolisian dan AURI. Maka, tak heran bahwa persaingan di dunia kerja dan karier di Indonesia lebih terlihat dari siapa yang menguasai materi banyak, akan terlihat jelas ruang yang akan didapat, dan siap-siap bagi mereka yang hanya bermodalkan potensi semata tanpa kekuatan atau backing materi, karena bisa saja akan tersingkirkan.
Hal tersebut sama dengan yang dialamai oleh seorang anak muda yang ingin meniti karier di bidang AURI, “Saya yakin saya betul-betul telah mengikuti prosedur dengan baik dalam lapangannya, sehingga membuat saya merasa ganjil ketika saya dijatuhkan tidak lolos dalam salah satu bidang padahal saya sendiri jelas sadar bahwa saya telah benar-benar berupaya, dan para penilai pun nampak senang dengan jawaban saya ketika tes berlangsung. Apakah mungkin ada sesuatu yang salah dari diri saya hingga membuat saya terlanjur yakin atas diri sendiri?” ia bertutur dengan sedih. Tes tersebut berlangsung di Solo sekitar akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2010 yang berlokasi di Lanud Adi Soemarmo
Lingkungan akademik, sekalipun dikatakan tempat atau sumber ilmu, namun tak menjamin bersih dari upaya sogok-menyogok di dalamnya, bahkan seiring dengan perkembangan zaman memungkinkan orang akan dengan sadar melakukannya. Peristiwa seperti ini sudah menjadi kebiasaan, dan mungkin kebutuhan dengan tuntutan hidup. Selain daripada itu, partner (pihak dalam yang berpengaruh dalam jabatan di lembaga yang dituju) adalah salah seorang yang dapat menjamin seorang calon agar ia dipersiapkan tempat. Kerjasama pun tercipta, hanya untuk meloloskan seorang calon, yang secara potensi dipertanyakan.
Dengan kondisi ini, jelas akan lebih memperburuk SDM bangsa karena termanipulasi oleh transaksi tersebut hingga memunculkan sikap pesimistis dari masing-masinng individu yang ingin mengikuti berbagai tes yang diadakan oleh berbagai sector di Indonesia namun tidak memiliki materi berlebih. Tradisi seperti ini memang sulit untuk dihindari terlebih dilenyapkan karena sudah menjadi bagian kebutuhan. Kepastian hokum pun masih tidak dapat dipercaya terutama bagi masyarakat kelas bawah (mayoritas masyarakat asli Indonesia). Pribadi pancasila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab adalah nadi/urat sebagai pedoman dalam memeluk kehidupan, terutama di Indonesia. Oleh karena itu, percayakan sepenuhnya pada diri bahwa potensilah yang menghantarkan seseorang menuju kesuksesan, juga behaviorism yang mendasari diakuinya seseorang oleh individu, masyarakat atau lembaga terkait.
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah sogok (noun) sebagai anak kunci yang digunakan untuk menyogok atau menyuap. Sedangkan menyogok sendiri adalah merogoh, memberi suap. Perilaku tersebut biasa terjadi di berbagai sector tanpa memandang kelas. System sogok-menyogok terjadi bukan karena niat namun karena ada kesempatan. Kalau niat bisa berupa materi yang telah disiapkan dengan rupa-rupa cara mendapatkannya, dan kesempatan lebih mengenai ruang dan waktu sebagai peluang aman untuk menyogok. Hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan, semua demi kepentingan yang ingin dicapai, bagaimana pun caranya termasuk system sogok-menyogok. Tak menyoal berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika ia terbentur dengan suatu kepentingan.
Kendati demikian, siapakah atau lembaga apakah yang menerima sogokan tersebut? Sebelumnya telah dijelaskan di muka bahwa untuk sogok-menyogok sendiri terjadi di berbagai sector. Baik itu sector negeri maupun swasta, gelinya lagi kesibukan tersebut sudah menjadi transaksi terbuka di kalangannya sekalipun itu adalah lemabag Negara seperti kepolisian dan AURI. Maka, tak heran bahwa persaingan di dunia kerja dan karier di Indonesia lebih terlihat dari siapa yang menguasai materi banyak, akan terlihat jelas ruang yang akan didapat, dan siap-siap bagi mereka yang hanya bermodalkan potensi semata tanpa kekuatan atau backing materi, karena bisa saja akan tersingkirkan.
Hal tersebut sama dengan yang dialamai oleh seorang anak muda yang ingin meniti karier di bidang AURI, “Saya yakin saya betul-betul telah mengikuti prosedur dengan baik dalam lapangannya, sehingga membuat saya merasa ganjil ketika saya dijatuhkan tidak lolos dalam salah satu bidang padahal saya sendiri jelas sadar bahwa saya telah benar-benar berupaya, dan para penilai pun nampak senang dengan jawaban saya ketika tes berlangsung. Apakah mungkin ada sesuatu yang salah dari diri saya hingga membuat saya terlanjur yakin atas diri sendiri?” ia bertutur dengan sedih. Tes tersebut berlangsung di Solo sekitar akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2010 yang berlokasi di Lanud Adi Soemarmo
Lingkungan akademik, sekalipun dikatakan tempat atau sumber ilmu, namun tak menjamin bersih dari upaya sogok-menyogok di dalamnya, bahkan seiring dengan perkembangan zaman memungkinkan orang akan dengan sadar melakukannya. Peristiwa seperti ini sudah menjadi kebiasaan, dan mungkin kebutuhan dengan tuntutan hidup. Selain daripada itu, partner (pihak dalam yang berpengaruh dalam jabatan di lembaga yang dituju) adalah salah seorang yang dapat menjamin seorang calon agar ia dipersiapkan tempat. Kerjasama pun tercipta, hanya untuk meloloskan seorang calon, yang secara potensi dipertanyakan.
Dengan kondisi ini, jelas akan lebih memperburuk SDM bangsa karena termanipulasi oleh transaksi tersebut hingga memunculkan sikap pesimistis dari masing-masinng individu yang ingin mengikuti berbagai tes yang diadakan oleh berbagai sector di Indonesia namun tidak memiliki materi berlebih. Tradisi seperti ini memang sulit untuk dihindari terlebih dilenyapkan karena sudah menjadi bagian kebutuhan. Kepastian hokum pun masih tidak dapat dipercaya terutama bagi masyarakat kelas bawah (mayoritas masyarakat asli Indonesia). Pribadi pancasila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab adalah nadi/urat sebagai pedoman dalam memeluk kehidupan, terutama di Indonesia. Oleh karena itu, percayakan sepenuhnya pada diri bahwa potensilah yang menghantarkan seseorang menuju kesuksesan, juga behaviorism yang mendasari diakuinya seseorang oleh individu, masyarakat atau lembaga terkait.
Sabtu, 22 Oktober 2011
iissuarsihwihanda
seorang manusia acapkali penuh dengan kode yang tak sepenuhnya diketahui oleh orang lain terkecuali dirinya sendiri. namun, ada pula yang membuat orang lain peka terhadap dirinya namun tidak dengan dirinya sendiri. hal tersebut bukanlah keinginan yang diinginkan oleh seseorang itu, begitupun penilaian orang lain terhadapnya ataupun orang yang menilai dengan sekehendak nile ataupun ingin menilai. semuanya memiliki wadah dan caranya sendiri untuk mengumpulkan prasangka yang membentuk keadaan seseorang. maka, begitulah seseorang menjadi bingung, tidak karuan bahkan hal yang tadinya dianggap biasa, namun karena mempola keadaan lah semuanya jadi tidak biasa bahkan menjadi pengamatan dari suatu hal yang tidak penting. dan, itu semua karena penilaian semata yang mencegah untuk let's the flow. jadi ada..................aja yang menjadi pikirannya tuh, walaupun memang sie itu bae buat best think, namun tetep saja hal tersebut menjadikan diri merasa ada tuntutan dari sesuatu hal yang tidak dituntut tadinya. kadang, karena tuntutan dari yang tidak menjadi tuntutan itu seseorang menjadi melankolis dalam tetesan air mata. hem, bila sejatinya memang sifat manusiawi itu masih termasuk kadar sebagai seorang makhluk yang ber-rasa tapi tidak berarti untuk menuntut
Langganan:
Postingan (Atom)