Sabtu, 07 April 2012

Aku ingin mengerti part VIII

Aku ingin mengerti part VIII
“Bunga” kata-nya.
07/04/2012
Tak pantas sebenarnya, bila ia dikata bunga karena bunga jauh lebih cantik dari dirinya. Tapi kalaupun begitu, ia pun bersyukur atas Tuhannya yang senantiasa menyayanginya.
Ia pun harap-harap cemas dengan jenisnya, emmm maksudnya merasa normal seperti yang lainnya, yang sudah tak asing untuk waktu sekarang ini. Kenapa ia nyatakan ‘waktu’ sekarang ini? Karena esok atau lusa keadaan belum tentu akan sama seperti sebelum-sebelumnya. Maka, sepantasnya mensyukuri yang merupakan kewajiban ia sebagai seorang yang biasa.
Ia tak lebih dari seorang makhluk yang apa adanya walaupun diada-adakan atau ditutup-tutupi, yang menurutnya bae mungkin dengan berbuat begitu. Kendala ia ketika ‘mungkin’ ada yang meliriknya adalah sangat malu dan minder. Mengapa tidak, sudah dikatakan ia biasa, dan bunga? Sungguh sangat cantik tapi … tergantung dari bunganya siiiee … hem
Cantiknya lagi, si dia yang ‘katanya’ bunga meren bertindak dengan berimagine bahwa ia ingin meninggal kala ada orang yang ‘meliriknya’ sehingga jauh membuat dirinya cantik, dan seolah itu ia damba. Maka dari itu, mana ada orang berpikir sampai ke sana kala ia sedang bahagia? Terkecuali ia memang tidak biasa seperti biasanya orang kala bahagia.
Entah apa yang menjadikan pikiran itu begitu berbunga-bunga dalam benaknya, namun, itulah dia yang dikata ‘bunga’. Saat ini ia berkata dan merasa bahwa yang membuat dirinya berbunga-bunga seperti bunga adalah dengan bersyukur, dan dengan bersyukurlah ia menjadi ‘merasa’ bunga yang berbunga-bunga. Cantik, tapi tidak mempercantik karena tidaak ada yang patut dipercantik dari ia sebagai seorang makhluk biasa. Diakui ia biasa, tapi …. Ia mencoba tidak biasa-biasa agar ia tidak menjadi biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar